31 Desember 2005

Mikrotik

Nama : Marah sakti Lubis

Berbagai Level Router OS dan Kemampuannya.
Mikrotik RouterOS hadir dalam berbagai level. Tiap level memiliki kemampuannya masing-masing, mulai dari level 3, hingga level 6. Secara singkat, level 3 digunakan untuk router berinterface ethernet, level 4 untuk wireless client, level 5 untuk wireless AP, dan level 6 tidak mempunyai limitasi apapun.

Fitur RouterOS.
MikroTik RouterOS™ V2.8 adalah solusi untuk Hotspot yang memungkinkan otentikasi user dan melakukan perhitungan secara umum adn private, menggunakan kabel atau jaringan wireless. Applikasi yang biasa digunakan seperti untuk akses wireless di airports, hotel dan tempat umum lainnya, sebaik akses otentikasi ke jaringan di Universitas dan Sekolahan.

23 Juli 2005

Wireless Linux di Axioo 103-A

Nama : Marah sakti Lubis

My Centrino is WORKed!!!!
Sebelumnya aku mo say thank's banget sama pihak Axioo yang udah membedah kebuntuan ku selama ini, terutama kepada mas Agus dan temannya (sori aku lupa nama nya) yang udah ngantar CD langsung ke kos ku. Gileee..., mana ada Vendor Notebook sebaik Axioo yang mau ngantar perangkat pendukung langsung ke client-nya.
Rupanya.., Axioo sendiri sudah menyiapkan sendiri Distro untuk produk Axioo nya dengan distribusi Kanotik (setahu aku Kanotik ini turunan Knoopix) tapi dimanual nya aku baca kok turunan Mandrake 9.2. Nggak tau lah.., yang penting Centrino ku udah jalan :-)).

Dari CD tersebut, awalnya aku mau langsung install ke Laptop ku.., ehh..., waktu mo di Install, rupanya nggak bisa menggunakan partisi, alias Hardisk laptop ku mo diPartisi Full Kanotik, yang benar aja, mau dikemanakan Mandriva ku .

Setelah aku baca-baca, aku mo buat eksperiment, yang akhir berhasil memfungsikan Bash Script dari Kanotik yang ku Implementasikan ke Mandriva, and You know what? It's worked. Ya..., bahasa gaul nya.., saya maen di kernel gitu loh .
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi rekan's yang menggunakan Linux buat Axioo nya terutama di Axioo turunan 10x-y. Saya kebetulan memakai Axioo yang 103-A.
1. Pastikan Mandriva udah terinstall.
2. Pastikan Kernel-source udah diinstall juga.
3. Pastikan juga ipw2200 udah diinstall.

jika Anda sudah melengkapi bagian 1 dan 2, biasanya nomor 3 juga sudah ada.
coba ketikkan;
#iwconfig
seharusnya bacaan yang tampil adalah "unassociated" atau "radio off".
jika anda membaca salah satu dari dua tanda itu, jangan khawatir, jawaban akan kebuntuan Anda akan terselesaikan.

4. Download firmware versi terbaru dari ipw2200 atau ipw2100 Anda di ;
http://ipw2200.sourceforge.net
5. Jika memang dianggap perlu, Anda juga dapat mendownload source terbaru dari ipw2200 Anda di website yang sama.

Dalam beberapa kasus.., biasa nya Anda akan diminta untuk menginstall ulang IEEE buat wireless Centrino.
Jika memang begitu, Anda dapat mendownload nya dari http://ieee80211.sourceforge.net/. Tahapan instalasinya juga ada di website tersebut.

6. perintah kompilasi ipw2200 (jika Anda tidak mengkompile ipw2200 yang baru, lewatkan bagian ini)
#mkdir /usr/src/intel
#mv file_download_ipw_2200 /usr/src/intel
#cd /usr/src/intel
#tar -zxvf ipw2200-1.0.6.tgz
#cd ipw2200-1.0.6/
#./configure
#make
#make install

jika bagian ini ada yang eror, silahkan kirim email Anda ke saktilubis@gmail.com

7. Sekarang kita main ke firmware ipw2200.
setelah didownload file ipw2200-fw-2.3.tgz, pindahkan ke ;
#mv ipw2200-fw-2.3.tgz_posisi_awal /usr/src/intel
fungsi peletakan di folder "intel" ini, hanya untuk memudahkan saja.

8. buat directory "firmware" di;
#mkdir /lib/firmware
#mkdir /lib/hotplug/firmware

9. Copykan file firmware yang di /usr/src/intel tadi ke folder baru yang telah kita buat;
#cp /usr/src/intel/ipw2200-fw-2.3.tgz /lib/firmware/
#cp /usr/src/intel/ipw2200-fw-2.3.tgz /lib/hotplug/firmware/

10. Dimasing-masing folder, untar file firmware tersebut;
#tar -zxvf ipw2200-fw-2.3.tgz

Sampai sini, jika tidak ada pesan kesalahan, maka ipw2200 versi baru kita punya dah bisa digunakan, sekarang bagaimana agar radio Axioo kita jadi On??

copy file "centrino" buatan saya di;
http://groups.yahoo.com/group/IndoWLI-Medan-Jogja/files/Axioo/
ada dua file penting yang digunakan, yaitu av5100.o yang dijadikan "driver manipulasi" oleh Axioo, dan file Centrino yang berfungsi memanfaatkan file av5100.o tadi dan juga berfungsi mengaktifkan fungsi radio Axioo kita.

Untuk dapat memanfaatkan file av5100.o ini, kita memerlukan lagi tools ndiswrapper, cari dengan;
#urpmi ndiswrapper
atau
#kdesu rpmdrake
ketik ndiswrapper

setelah ndiswrapper diinstall, file nya ada di
#cd /etc/ndiswrapper

Sampai disini, kita perlu lagi memanfaatkan driver Windows yang digunakan untuk mengaktifkan Centrino kita, nama file nya adalah w22n51.INF
untuk itu, kita harus menginstall file w22n51.INF tersebut;
#ndiswrapper --help <<<< Untuk melihat fungsi yang ada
#ndiswrapper -i w22n51.INF <<<< Untuk menginstall driver
#ndiswrapper -l <<<< Seharusnya Anda melihat baris ini;

[root@laptop wlan]# ndiswrapper -l
Installed ndis drivers:
w22n51 driver present, hardware present

11. Setelah masalah dengan ndiswrapper selesai, kita tinggal mendownload 2 file yang ada di;
http://groups.yahoo.com/group/IndoWLI-Medan-Jogja/files/Axioo/
yaitu centrino dan av5100.o
dua file ini dimasukkan dalam satu folder.

12. berikut perintahnya
#mkdir /home/sakti/wlan
#mv file_av5100.o_dan_centrino /home/sakti/wlan
#cd /home/sakti/wlan

ini bagian yang terpenting!!!, lihat apakah radio Anda sedang "Off" atau mati. jika iya, jalan kan bash script berikut di folder /home/sakti/wlan/
#./centrino
maka besar kemungkinan radio akan menjadi "On" atau hidup. Indikator hidup atau mati dapat dilihat dari LED pada panel LCD Anda.

Jika File Centrino yang Anda download tidak dapat di eksekusi, maka ganti chmod file centrino tersebut;

#chmod 775 centrino

Selanjutnya adalah perintah dasar dari pemanfaatan radio wlan. Ingat, untuk tahap awal, sebaiknya akses point mentiadakan fungsi pengamanan apapun seperti WEP, WPA, WPA-PSK atau bahkan MAC Filtering.

Anda akan dipandu oleh Script "centrino" tersebut untuk mengisi parameter satu per satu, sperti;
a. Jenis jaringan
a.1. Ad-Hoc adalah jaringan antar 2 atau lebih komputer dengan wlan.
a.2. Managed adalah jaringan dari komputer wlan ke radio (akses point).
pada umumnya parameter yang diisi adalah "Managed".
b. ESSID
ESSID atau SSID adalah nama penganal dari radio target (akses point).
c. Nomor IP, sesuaikan dengan kelas IP di akses point.
d. Netmask / Subnet, isis sesuai dengan jaringan tempat Anda.

Jika dijaringan saya, maka setelah mengisi parameter Netmask / Subnet, hasil yang ditampikan adalah sebagai berikut;
wlan0 IEEE 802.11g ESSID:"linksys" Nickname:"laptop.dejava.net"
Mode:Managed Frequency:2.462 GHz Access Point: 00:12:17:19:04:51
Bit Rate=54 Mb/s Tx-Power=20 dBm
Retry limit:7 RTS thr:off Fragment thr:off
Encryption key:off
Power Management:off
Link Quality=100/100 Signal level=-20 dBm Noise level=-87 dBm
Rx invalid nwid:0 Rx invalid crypt:0 Rx invalid frag:0
Tx excessive retries:0 Invalid misc:0 Missed beacon:1

at least.., semoga Anda berhasil dan tidak mengalami masa-masa kebuntuan seperti yang saya alami .

15 Juli 2005

MRTG untuk monitoring Proxy Squid

Nama : Marah sakti Lubis


Jika di tempat anda menggunakan squid sebagai proxy server dan anda ingin mengetahui utilisasi atau pun performance dari squid proxy tersebut, anda bisa menggunakan MRTG sebagai tools untuk memonitoring Squid Proxy anda. Saya asumsikan anda sekalian telah meng-install squid dengan option "--enable-snmp". Jika anda belum meng-installnya, anda harus mengcompile ulang squid anda dengan tambahan option "--enable-snmp". Jika module ini sudah terinstall, anda tinggal meng-edit di file squid.conf anda seperti dibawah ini:

#Squid SNMP Configuration
snmp_port 3401
acl TESTSNMP src 192.168.8.0/255.255.255.0 <--saya asumsikan network anda adalah 192.138.8.0-->
acl snmppublic snmp_community public
snmp_access allow snmppublic TESTSNMP

setelah itu restart lah squid anda dan sekarang squid anda telah siap untuk dimonitor dengan MRTG.

Langkah berikutnya adalah menyiapkan mrtg itu sendiri. Untuk mendapatkan tools ini, anda dapat mendownloadnya dari website MRTG

Setelah itu, langkah berikutnya adalah:
# tar -zxvf mrtg-2.9.17.tar.gz
# cd mrtg-2.9.17
# ./configure --prefix=/usr/local/mrtg
# make
# make install

Ok, sekarang MRTG anda telah terinstall di box anda dan siap digunakan. Saya asumsikan bahwa box anda sudah terinstall aplikasi web server, misalnya apache web server atau aplikasi web server lainnya. Jika belum, install lah aplikasi
web server di box anda, agar report yang dihasilkan oleh MRTG ini dapat di analisa dengan baik.

Langkah selanjutnya, anda harus membuat sebuah config file yang akan digunakan oleh MRTG ini agar dapat berhubungan dengan squid proxy server anda. Anda dapat menggunakan editor "vi" untuk membuat file ini, e.g.: vi mrtg-squid.conf kemudian isi mrtg-squid.conf itu sendiri seperti dibawah ini:

WorkDir: /usr/local/apache/htdocs/web/squid **tempat dimana file index.html dicreate oleh mrtg-squid.conf**
WriteExpires: Yes

LoadMIBs: /usr/local/mrtg/squid/mib.txt **file mib.txt ini dihasilkan pada saat mengcompile squid dengan option "--enable-snmp"**

Options[^]: growright
WithPeak[^]: y

MaxBytes[_]: 30000000

Target[proxy-hit]: 1.3.6.1.4.1.3495.1.3.2.1.2&1.3.6.1.4.1.3495.1.3.2.1.1:public@
192.168.8.1:3401
Title[proxy-hit]: HTTP Hits
PageTop[proxy-hit]:

HTTP Hits / Requests


#Suppress[proxy-hit]: y
LegendI[proxy-hit]: HTTP hits
LegendO[proxy-hit]: HTTP requests
Legend1[proxy-hit]: HTTP hits
Legend2[proxy-hit]: HTTP requests
YLegend[proxy-hit]: perminute
ShortLegend[proxy-hit]: req/min
Options[proxy-hit]: nopercent, perminute, dorelpercent

Target[proxy-requests]: 1.3.6.1.4.1.3495.1.3.2.1.11&1.3.6.1.4.1.3495.1.3.2.1.10:
public@192.168.8.1:3401
Title[proxy-requests]: Cache Server Errors / Requests
PageTop[proxy-requests]:

Server Errors / Requests


#Suppress[proxy-requests]: y
LegendI[proxy-requests]: Errors
LegendO[proxy-requests]: Requests
Legend1[proxy-requests]: Errors
Legend2[proxy-requests]: Requests
YLegend[proxy-requests]: per minute
ShortLegend[proxy-requests]: 1/min
Options[proxy-requests]: nopercent, perminute, dorelpercent

Target[proxy-srvkbinout]: 1.3.6.1.4.1.3495.1.3.2.1.12&1.3.6.1.4.1.3495.1.3.2.1.1
3:public@192.168.8.1:3401
Title[proxy-srvkbinout]: Cache Server Traffic In / Out
PageTop[proxy-srvkbinout]:

Server traffic volume (In/Out)


#Suppress[proxy-srvkbinout]: y
LegendI[proxy-srvkbinout]: Traffic In
LegendO[proxy-srvkbinout]: Traffic Out
Legend1[proxy-srvkbinout]: Traffic In
Legend2[proxy-srvkbinout]: Traffic Out
YLegend[proxy-srvkbinout]: per minute
ShortLegend[proxy-srvkbinout]: b/min
#ShortLegend[proxy-srvkbinout]: kb/min
kilo[proxy-srvkbinout]: 1024
kMG[proxy-srvkbinout]: k,M,G,T
Options[proxy-srvkbinout]: nopercent, perminute

Target[proxy-httpsvc]: 1.3.6.1.4.1.3495.1.3.2.2.1.2.5&1.3.6.1.4.1.3495.1.3.2.2.1
.2.5:public@192.168.8.1:3401
Title[proxy-httpsvc]: HTTP svc
PageTop[proxy-httpsvc]:

HTTP Median Service Time (5 min)


#Suppress[proxy-httpsvc]: y
LegendI[proxy-httpsvc]: HTTP 5min svc
LegendO[proxy-httpsvc]:
Legend1[proxy-httpsvc]: HTTP 5 min cache Median Service Time
Legend2[proxy-httpsvc]:
YLegend[proxy-httpsvc]: msec
ShortLegend[proxy-httpsvc]: ms
Options[proxy-httpsvc]: nopercent, gauge

Target[proxy-mem]: 1.3.6.1.4.1.3495.1.3.1.4&1.3.6.1.4.1.3495.1.3.1.4:public@192.
168.8.1:3401
Title[proxy-mem]: Cache Mem Usage
PageTop[proxy-mem]:

Cache Mem Usage


MaxBytes[proxy-mem]: 100000
#Suppress[proxy-mem]: y
ShortLegend[proxy-mem]: Byte
LegendI[proxy-mem]: CacheMemUsage
LegendO[proxy-mem]:
Legend1[proxy-mem]: CacheMemUsage
Legend2[proxy-mem]:
YLegend[proxy-mem]: Byte
Options[proxy-mem]: gauge, nopercent, perhour

Target[cacheRequestHitRatio]: cacheRequestHitRatio.5&cacheRequestHitRatio.60:pub
lic@192.168.8.1:3401
MaxBytes[cacheRequestHitRatio]: 100
AbsMax[cacheRequestHitRatio]: 100
Title[cacheRequestHitRatio]: Request Hit Ratio
Options[cacheRequestHitRatio]: absolute, gauge, noinfo, growright, nopercent
Unscaled[cacheRequestHitRatio]: dwmy
PageTop[cacheRequestHitRatio]:

Request Hit Ratio


YLegend[cacheRequestHitRatio]: %
ShortLegend[cacheRequestHitRatio]: %
LegendI[cacheRequestHitRatio]: Median Hit Ratio (5min)
LegendO[cacheRequestHitRatio]: Median Hit Ratio (60min)
Legend1[cacheRequestHitRatio]: Median Hit Ratio
Legend2[cacheRequestHitRatio]: Median Hit Ratio

Target[cacheRequestByteRatio]: cacheRequestByteRatio.5&cacheRequestByteRatio.60:
public@192.168.8.1:3401
MaxBytes[cacheRequestByteRatio]: 100
AbsMax[cacheRequestByteRatio]: 100
Title[cacheRequestByteRatio]: Byte Hit Ratio
Options[cacheRequestByteRatio]: absolute, gauge, noinfo, growright, nopercent
Unscaled[cacheRequestByteRatio]: dwmy
PageTop[cacheRequestByteRatio]:

Byte Hit Ratio


YLegend[cacheRequestByteRatio]: %
ShortLegend[cacheRequestByteRatio]:%
LegendI[cacheRequestByteRatio]: Median Hit Ratio (5min)
LegendO[cacheRequestByteRatio]: Median Hit Ratio (60min)
Legend1[cacheRequestByteRatio]: Median Hit Ratio
Legend2[cacheRequestByteRatio]: Median Hit Ratio

Target[cacheCpuTime]: cacheCpuTime&cacheCpuTime:public@192.168.8.1:3401
MaxBytes[cacheCpuTime]: 1000000000
Title[cacheCpuTime]: Cpu Time
Options[cacheCpuTime]: gauge, growright, nopercent
PageTop[cacheCpuTime]:

Amount of cpu seconds consumed


YLegend[cacheCpuTime]: cpu seconds
ShortLegend[cacheCpuTime]: cpu seconds
LegendI[cacheCpuTime]: Mem Time
LegendO[cacheCpuTime]:
Legend1[cacheCpuTime]: Mem Time
Legend2[cacheCpuTime]:

**asumsi proxy server anda ip nya 192.168.8.1, anda bisa juga menulis localhost**

Setelah itu save lah file tersebut dan keluar dari editor vi dengan command ":wq!" dan sekarang anda kembali lagi ke prompt semula.

Sekarang kita telah melakukan 3 hal, yaitu installasi squid dengan option --enable-snmp, kemudian installasi mrtg, dan membuat mrtg config file untuk memonitor squid proxy server anda.

Langkah selanjutnya adalah membuat file index nya agar dapat ditampilkan pada web browser anda. Untuk itu kita lakukan:
# ./indexmaker mrtg-squid.conf > /usr/local/apache/htdocs/web/squid/index.html **sesuai dengan workdir anda**

Kemudian, sekarang anda jalankan mrtg anda dengan membuat cron job agar MRTG tersebut dapat melakukan polling sesuai dengan keinginan anda, misalnya setiap 5 menit sekali atau 10 menit sekali:
crontab -e
#mrtg polling every 5 minutes
*/5 * * * * /usr/local/mrtg/bin/mrtg /usr/local/mrtg/bin/mrtg-squid.conf

Kemudian save cron job tersebut dan kembail ke prompt awal.

Sekarang anda tinggal membuka web browser dan selamat memonitor squid proxy anda. Untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap mengenai MRTG, silahkan anda mengakses http://people.ee.ethz.ch/~oetiker/webtools/mrtg

notes: you can modify your index.html with your pleasure and please correct me if i wrong..thx..:)

11 Juli 2005

Mboh..., ra ngerti

Nama : Marah sakti Lubis

Suntuk kali aku ah....,
O ya..., President kita, Pak SBY itu menganjurkan agar menghemat pemakaian BBM dan peralatan LISTRIK lainnya. Ikutin ahh.....

Ada pesan dari pak Noesa yang "Mengharuskan" aku nginstall SLACK.., FUIHHH...
terpaksa deh mo nginstall nih malam, moga aja SQUID nya jalan :-).

05 Juli 2005

What the **** VLSM is that??

Nama : Marah sakti Lubis

Ada yang nanya saya..., apa itu VLSM, begini ;-)
VLSM itu adalah Variable Lenght Subnet Mask. that's it? beluumm.
yang sederhana.., Sesuai dengan namanya, adalah subneting di suatu network dengan panjang subnet yang bervariasi. Jadi sebagian ada yang /26, /27 dll. Sedangkan kalau semuanya /26 itu bukan merupakan VLSM tapi hanya subnet biasa.

kalau mau lebih sederhana lagi:
VLSM = perhitungan membagi network
intinya adalah hasil subnetting di subnet lagi.

Contoh nya :
192.168.1.0/24
Subnetting biasa dibagi jadi 4 network :
192.168.1.0/26 range :192.168.1.0-192.168.1.63
192.168.1.64/26 range :192.168.1.64-192.168.1.127
192.168.1.128/26 range :192.168.1.128-192.168.1.191
192.168.1.192/26 range :192.168.1.192-192.168.1.255

192.168.1.0/24
dengan VLSM dibagi menjadi
3 network @ 62 host
2 network @ 30 host

maka hasil perhitungannya menjadi :
192.168.1.0/26 range :192.168.1.0-192.168.1.63
192.168.1.64/26 range :192.168.1.64-192.168.1.127
192.168.1.128/26 range :192.168.1.128-192.168.1.191

subnetwork 192.168.1.192/26 dibagi lagi jadi
2 network:
192.168.1.192/27 range :192.168.1.192-192.168.1.223
192.168.1.224/27 range :192.168.1.224-192.168.1.255

masih bingung juga??
begini mas ... ;-)
VLSM bukan hanya digunakan untuk 'operasi'/implementasi subnetting, tapi juga supernetting (penggabungan beberapa subnet kecil menjadi subnet yang lebih besar). Karena penggabungan subnet kecil ini kadang mengakibatkan keraguan kelas dari sebuah rentang IP, maka digunakan istilah CIDR (Classless InterDomain Routing -> Istilah ini di-'paksa'-kan supaya tidak menggunakan CIR - Committed Information Rate yang sering ditemukan di Frame Relay network).
VLSM adalah metode yang digunakan dalam CIDR dalam merepresentasikan subnet mask yang digunakan. CIDR juga digunakan di IPv6 (bayangkan kalau gak pakai CIDR, berapa banyak ff:ff:ff:... yang harus digunakan untuk mewakili kemiripan 255.255.... di IPv4)

VLSM memang awalnya digunakan untuk membagi/ memecah satu subnet besar menjadi kumpulan subnet-subnet kecil demi menghindari kelebihan alamat IP publik yang tidak terpakai (wasted IP address) yang diberikan dari ISP ke client. Apalagi IPv4 memiliki jumlah yang cukup 'terbatas'.

Setelah muncul RFC 1918 (alokasi untuk private internet - alamat IP
private), VLSM juga digunakan untuk tujuan yang sama. Karena untuk
private IP 'kelas' A, B dan C menjadi jauh lebih fleksibel untuk
penggunaan internal. Tapi tanpa memecah subnet menjadi subnet-subnet kecil, kecenderungan anomali jaringan komputer menjadi naik (diantaranya broadcast storm).

Representasi VLSM tidak menggunakan kumpulan 4-octet yang biasa
ditemukan (mis: 255.255.0.0 untuk default subnet mask kelas B), tapi VLSM membantu 'menerjemahkan' angka yang digunakan menjadi kumpulan 4-octet yang digunakan untuk melakukan subnetting.
Bentuk representasinya adalah dengan menggunakan tanda '/' diikuti
dengan angka antara 2 - 30 (usable subnets) subnet mask 255.0.0.0 direpresentasikan dengan /8 -> hanya 8-bit pertama dari total 32-bit alamat IPv4 yang digunakan subnet mask 255.255.0.0 direpresentasikan dengan /16 -> hanya 16-bit pertama yang digunakan
subnet mask 255.255.255.0 direpresentasikan dengan /24 -> hanya 24-bit pertama yang digunakan bit 'pertama' diarahkan kepada 'most significant bit' (alias dimulai dari yang paling kiri ke kanan ... untuk pengertian bahasa sehari-hari)

jadi /30 merupakan representasi 255.255.255.252
/22 merupakan representasi 255.255.252.0 dst ... mudah tokh??? :)

Kalau penggunaan supernet jarang kita lakukan. Begini contoh yang bisa saya berikan:
Kalau subnet kelas C hanya memiliki 256 alamat IP (baik usable maupun tidak), dan kebetulan diberikan lagi 256 alamat IP dari ISP dan kebetulan sekali subnet addressnya berurutan, maka si ISP akan
menggunakan metode supernetting.
Contoh:
awalnya ISP memberikan alamat 200.100.100.0/24, lalu diberikan lagi
alamat 200.100.101.0/24, maka dari sisi ISP (kemungkinan besar) akan menggunakan alamat 200.100.100.0/23 dan menunjuk ke network Anda via serial-IP dari router ISP ke router Anda.

Peringatan!!!
untuk yang masih membaca POST-ingan ini sampai sini, router Anda
bukanlah nama samaran ataupun lainnya, Anda = kamu = engkau = eloe...
hehehe ... jangan serius amat dong! :)

Jadi dari hasil supernet tersebut, network baru akan memiliki 512 alamat IP (509 alamat IP yang bisa digunakan/ usable, karena 1 alamat pasti digunakan untuk gateway router, hayoo yang baru ujian CCNA1 pasti kejebak sama pertanyaan ini tokh???)

Kalau sudah belajar VLSM/CIDR, pasti gak lama ketemu (atau kelewatan???) 'IP unnumbered' :) silahkan tanya pendapat rekan-rekan lain untuk yang satu ini :) seru loh :)

Hehehehe...., ngerti nggak ya. jujur aja, aku aja kadang bingung kok, Don't worry, You're not a lone :-)

Thank's to dwichandramd...

30 Juni 2005

Pengalaman seorang teman meraih CNAP

Nama : Marah sakti Lubis

Date: Tue, 28 Jun 2005 03:42:48 -0000
From: "budi_danny" <Budi_danny@xxxxxx.com>
Subject: Hanya sekedar info

Sebenarnya saya lulusan Binus yang agak kesulitan mencari kerja.
Dalam beberapa wawancara, terus terang apalagi ip saya cuman 2.88.
Agak lumayan sedikit sulit.

Trus ada beberapa teman yang mengajurkan untuk ambil CNAP di Binus
Center. Setelah saya melihat CNAP di Binus ternyata perlu waktu
sekitar 11-12 bulan. Karena daftar bulan maret 2005- lulus bulan
februari 2006.

Terus terang waktunya cukup lumayan sedikit lama. Tapi mungkin CNAP
lebih ke soal PR. Ada bikin proyek, Bikin Solusi, dan soal-soal lain
yang harus dikerjakan setiap minggunya. Persis seperti kuliah.

Tentu saya tidak mau membuang waktu 1 tahun, seminggu 2 sampai 4 kali
pertemuan. Beberapa jam. Oleh karena itu saya putuskan untuk ikut CCNA
yang ditawarkan di Inixindo. Karena alasan, saat itu saya buta sama
sekali tentang network. Bahkan kabel, alat network saja saya nggak
tahu.

Saat mendaftar, memang harganya Rp 7.450.000,-. Kemudian saat itu
Inixindo masih di Wisma Slipi, saya datang dan registrasi langsung
sama salesnya.

Kemudian salesnya bertanya, personal yah !
Saya bilang iyah ! Dan saya masih pengangguran ! Jadi Orang tua yang
membiayai.

Kemudian saya dikasih harga Rp 6.500.000,- plus bunos voucher exam.
Jadi nggak usah beli lagi US$ 150. Yang 7.450 juga bonus exam.
Namun pada saat itu yang ikut kursus seangkatan saya, dibiayai
perusahaan 7.450 tapi nggak dapet voucher exam karena dilarang oleh
perusahaannya. Jadinya dia marah-marah, malah saya yang 6.5
kecipratan. Mungkin saya lebih murah dan dapet voucher lagi !

Soal training di Inixindo yah biasa saja !
Kekurangannya saat Internetwoking Concept menggunakan buku buatan
mereka sendiri tahun 2002. Tapi ngak apa-apa.
Trus kalo soal ICND adalah langsung dari Cisco-nya sendiri, jadi kami
dapet 3 buku, sekaligus latihan bikin VLAN, Routing, Access-List, dan
WAN.Tapi waktu coba WAN tidak berhasil di implementasikan, karena no
telp ada masalah. Tapi soal konfigurasi dan implementasi sangat bagus
sekali.
Trus di materi Pre-Exam adalah materi yang sama persis dng TestKing.
Jadi sama saja. Cuman legalitas saja.
Namun pada akhir kursus, kami diberikan Testking V.67, kemudian Cisco
TFTP, Boson Cisco Router EXAM Practice V. 5-27 beserta cracknya.
Boson Cisco Router EXAM ini, lengkap sekali dari CCNA, 601-607. Sampai
CIT MPLS (640-901)mungkin untuk CCNP.

Hari terakhir kursus, saya diberikan sertifikat Completion. ICND dari
Cisco, dan Inter-Concept dari Inixindo, sekaligus Voucher Exam.
Sertifikat ICDN dari Cisco yang cuman Completion saja, cukup lumayan
sedikit mendongkrak saya dalam beberapa wawancara kerja.
Dan saya bilang nanti transkrip nalai dari Cisco, akan menyusul.

Kemarin begitu selesai Test soal ke 55. Tekan Next langsung keluar
hasil, serta di print nilai transkip saya. Namun untuk sertifikatnya
menunggu 4-8 minggu.Jadi untuk cari kerja pakek transkip nilai dulu.

Persiapan yang saya lakukan kurang lebih sekitar 2 bulan, setelah
ambil kursus di Inixindo. Yaitu baca buku CCNA Study Guide dari Todd
Lamle(Gramedia-terjemahan Rp 189.800,-). Kemudian dari ICDN CIsco 3
buku dapet dari Inixindo. Dan Test King serta 3 exam simulasi CCNA
640-801. Dari Boson Test yang telah saya sebutkan di atas. Dimana exam
pertama ada 400 soal, exam kedua 400 soal. Dan terakhir 900 soal.
Dan cukup berat sampai saya tidak tidur 48 jam. Ke dokter di kasih
Valium. Tapi cukup worthed ! nggak sia-sia lah !

Soal teknologi adalah soal tentang Spanning Tree( the lowest -
kebalikan dari OSPF - the highest). Trus ada soal yg sama persis dari
Boson. Kalo nggak salah soal Host A pengen komunikasi dng Host B,
melalui router, switch dan lain-lain. Host A hanya memiliki MAC
address Switch atau router yang terkoneksi langsung dengan dia, namun
memiliki IP Host B. Sehingga di Router atau di Switch memproses MAC
address Switch, merubah MAC address jadi MAC address Router. Karena
Switch tidak tahu apa yang dinamakan IP itu sebenarnya apa ?

Masalah WAN apa yang harus dilakukan. 1. Establish, 2 authen, 3.
Conection. Masalah copy ke TFTP. Aturannya : 1. Cek reachability by
Ping, 2. Cek disk space di FTFP Server, 3. Penamaan File name
nomenclature (bukan server mampu tidak menjalankan file .bin), 4.
Haruskah ada file exist di Server(untuk Unix- saya juga tidak tahu
maksudnya apa? tapi saya hafalkan).

Masalah Trouble-shotting saya dapet 54 %. Ada soal yang lucu !
Dikasih sh vlan. domain namenya beda, kemudian modenya sama server.
Trus mereka tdp dapet komunikasi. Saya bingung Lebih baik mana pilih
VTP domain beda, atau VTP modenya sama server. Namun saya pikir-pikir
lagi, banyak test book yang sering menyebutkan harus di domain name
sama. Jadi saya pilih domain name. Tapi saya agak ragu. Soalnya di
ICDN mengatakan 2 switch komunikasi harus salah satu jadi Server.

Saya pikir sampek matang-matang soal ini, sampai 5 menit. Saya bingung
setengah mati soalnya satu pilihan. Trus tentang ip nat, tanya ip
local outside. Saya pilih ip yg ip nat pool "begin" "ending" netmask
"subnet". Jadi saya pilih begining ip. Karena di Boson, juga pilih
begining bukan ending, mungkin karena alasan dinamic jadi pertama yg
diassign. Saya juga nggak tahu jadi saya nurut saja.

Soal frame-relay di Testking mempermasalahkan timer-timer. Di sini
letak kesalahan terbesar saya ! saya baru menyadari. Ternyata kalo
line protocol is up (layer 2- nothing wrong with timer,encap, dll).
Mungkin jawaban yg benar adalah loopback not assign, dan di soal ISDN,
spid is not valid. Soal LCP is OPEN berarti jalan. LCP is CLOSED
berarti masalah.

trus koneksi ip add serial point-to-point harus dalam 1 subnet. hampir
saja saya pilih masalah subnet. Tentu subnet nggak masalah /30 sama.
Namun yang saya pilih ip add karena ip beda subnet. Bukan subnetnya yg
salah. .5 yang lain .9/30. Tentu nggak bisa komunicate.

Pokoknya hampir sama di TestKing dan Boson. Jadi coba dimengerti saja
maksudnya. Kalo nggak dimengerti lebih baik dihafalkan.
KOnfigurasi, saya dapet mudah banget, assign ip add ke interface.
Waktu dulu guru saya dapet access-list dan named access-list.
Berdoa aja jangan sampek dapet ip nat, atau isdn, apalagi VLAN.

VLAN syntax berbeda dari 1900 dng 2950. Vlan database v.s. vlan [num].
vlan-membership static [num] vs vlan [num] name [string]. dan banyak
lagi.

Terus terang topologi di CCNA kemarin hampir sama persis di soal-soal
Test-King dan Boson. Entah mereka dapet dari mana, gambarnya !

Dan terus terang, seperti kata guru saya di Inixindo. Kursus belum
tentu menjamin 100% pass. Mungkin lebih kearah pengalaman yg kita
dapatkan konfigurasi langsung router, switch, vlan, dll.

Oh Iyah, simpang siur, bikin bingung.
BRI 2B+1D. 144 Kbps(menurut testking) - 192 (menurut boson).
D = bisa 1 - 64. jadi mungkin bisa 16, mungkin bisa 64.
PRI T1. ada yg bilan 23B+1D. ada yg bilang 24B+1D. E1 30B+1D, ada juga
32B+1D.

Untuk cari cd Boson mungkin di Mall Mangga dua. Pusat komputer.
Kalo testking, mungkin ada juga.

Terus terang saya tidak bisa upload boson, atau testking karena agak
berat sekitar 15 MB. saya upload, kemudian operation time out by Yahoo.
Maklum koneksi saya dial-up. Jadi nggak bisa.

Terima kasih atas perhatiannya.

26 Juni 2005

Aku - Marah Sakti Lubis.

Nama : Marah sakti Lubis



Ini adalah gambarku dan teman-teman setia ku. Kami menghadiri seminar Pak Onno di UPN Jogjakarta.

Dari kiri ke kanan :
1. Marah Sakti Lubis.
2. Januar Andriana.
3. Onno Widodo Purbo.
4. Rinaldi.
5. Onnie Prasetya.

25 Juni 2005

Metoda pengajaran memperoleh sertifikat Cisco (versi www.mmu.edu.my)

Nama : Marah sakti Lubis

1.1 CCNA 1.

Module 1. Introduction to Networking
Module 2. Networking Fundamentals
Module 3. Networking Media
Module 4. Cable Testing
Module 5. Cable LANs and WANs
Module 6. Ethernet Fundamentals
Module 7. Ethernet Technologies
Module 8. Ethernet Switching
Module 9. TCP/IP Protocol Suite and IP addressing
Module 10. Routing Fundamentals and Subnets
Module 11. TCP/IP Transport and Application Layer
Case Study: Structured Cabling


1.2 CCNA 2.

Module 1. WANs and Routers
Module 2. Introduction to Router
Module 3. Configuring a Router
Module 4. Learning about Other Devices
Module 5. Managing Cisco IPS Software
Module 6. Routing and Routing Protocols
Module 7. Distance Vector Routing Protocols
Module 8. TCP/IP Suite Error and Control Messages
Module 9. Basic Router Troubleshooting
Module 10. Intermediate TCP/IP
Module 11. Access Control Lists (ACLs)
Case Study: Routing


1.3 CCNA 3.

Module 1. Introduction to Classless Routing
Module 2. Single-Area OSPF
Module 3. EIGRP
Module 4. Switching Concepts
Module 5. Switching
Module 6. Switch Configuration
Module 7. Spanning Tree Protocol
Module 8. Virtual LANs
Module 9. Virtual Trunking Protocol
Case Study: Access Control Lists (ACLs)


1.4 CCNA 4.

Module 1. Scaling IP Addresses
Module 2. WAN Technologies
Module 3. PPP
Module 4. ISDN and DDR
Module 5. Frame Relay
Module 6. Introduction to Network Administration
Module 7. Optical Networking Fundamentals
Case Study: WAN


2. Fee

1. MMU charged the fee to student based on cost-recovery and non-profit basis
2. RM1000.00 (sekitar Rp 2,5 Juta) per semester. RM4000.00 for four semester.
3. Fee are payable on each semester.
4. Fee are due on the first week of each semester.
5. Students who have completed CCNA 1, CCNA 2 or CCNA 3 in MMU or from another academy, please send me an e-mail (cisco@mmu.edu.my).


3. Equipment available for lab hands-on

1. 9 Cisco routers. 4 Cisco 2620XM, 1 Cisco 2621XM, 2 Cisco 3640, 2 Cisco 2610
2. 2 Cisco Cat 2950 Switches
3. 5 switches and 10 hubs
4. Cable crimping device, RJ-45 connector, etc
5. 40 PCs per lab
6. No of certified CCAI-CCNA instructor. 4
CCAI-CCNA (Cisco Certified Academy Instructor for CCNA. Instructor who had pass their CCNA Certification Exam and had attended 4 semester of CCNA Instructor training).

Sertifikasi Cisco

By : Marah sakti Lubis

Tingkatan Skill

Di Cisco itu ada beberapa tingkatan skill
Yaitu : Tingkat Associate
1. CCNA : Cisco Certified Network Associate (syarat
mengikuti/lulus ujian module 640-801)
2. CCDA : Cisco Certified Design Associate (lulus module
640-861 lebih menitik beratkan kepada desain dan topology networking)

Tingkat Professional
CCNP : Cisco Certified Network Professional (syarat
mengikuti/lulus 4 module ujian 642-801 Building Scalabale Cisco
Internetworking , 642-811 Building Cisco Multilayer Switched Network,
642-821 Building Cisco Remote Access Network dan 642-831 Cisco
Internetwork Troubleshooting
CCDP : Cisco Certified Desaign Professional (syarat
mengikuti/lulus 3 module ujian 642-801 BSCI, 642-811 BCMSN dan 642-871
ARCH (Designing Cisco Network Architecture)
CCSP : Cisco Certified Security Professional (syarat
mengikuti/lulus 5 module ujian 642-501 SECUR, 642-521 CSPFA, 642-531
CSIDS, 642-511 CSVPN dan 642-541 CSI
CCVP : Cisco Certified VoIP Professional (syarat
mengikuti/lulus 5 module ujian 642-642 QOS (Quality of Service), 642-425
CVOICE (Cisco Voice), 642-424 IPTT (IP Telephony Troubleshooting), 624-444
CIPT, 642-452 GWGK
CCIP : Cisco Certified Internetwork Professional (syarat
mengikuti/lulus 5 module ujian 642-801 BSCI, 642-642 QOS, 642-661 BGP ,
642-611 MPLS

Tingkatan Expert (yang tertinggi)
CCIE : CiscoCertified Internetwork Expert (syarat mengikuti
12 module ujian yaitu module 350-001, 350-018, 350-010, 350-021, 350-022,
350-023, 350-024, 350-025, 350-026, 350-027, 350-027 (storage network) dan
350-030 (voice)

Dan juga ada beberapa skill qualified specialist di Cisco seperti Cisco
Security VPN, IP telephony dan Wireless yang juga masing2 harus lulus
module ujian skill tersebut.

Jadi untuk yang telah lulus CCNA sudah bisa mengajar candidat CCNA
(training CCNA) untuk CCNP juga tentunya bisa mengajar candidat CCNA dan
juga CCNP candidat, untul level CCIE bisa mengajar candidat CCNA, CCNP
atau tingkatan professional , dan menguji candidat CCIE.

Demikian informasi dari saya semoga membantu,

24 Juni 2005

Internet Murah (Konsep RT-RW Net)

Nama : Marah sakti Lubis

Implementasi Jaringan

Penggunaan jaringan komputer saat ini pada perusahaan – perusahaan sudah semakin menjadi sebuah kebutuhan untuk kelancaran kerja dan meningkatkan sumber daya manusia di perusahaan itu sendiri. Seorang atasan tidak perlu lagi memeriksa laporan akhir bulan satu per satu ke bawahaannya. Atasan tersebut cukup memeriksa berdasarkan laporan yang sudah dikirim ke komputernya melalui jaringan. Dengan jaringan dan kombinasi dengan sistem informasi, atasan suatu perusahaan dapat mengetahui siapa saja yang hadir di kantor pada saat itu. Semua itu dapat terlaksana tentu dengan pengembangan teknologi jaringan yang kian hari semakin membantu manusia.

Beberapa tahun sebelum saat ini sekitar tahun 1940 dimana awal konsep jaringan mulai diperkenalkan, pengiriman data antar jaringan masih cenderung menggunakan kabel. Teknologi kabel juga cukup membahagiakan, dimana kecepatan produk yang dijual bebas di pasaran dan relatif terjangkau yang dulunya hanya berkecepatan 10Mbps, sekarang sudah mampu melewatkan data hingga 100Mbps. Tetapi sayangnya, penggunaan jaringan kabel tidak mendukung aktifitas yang bergerak (mobile).

Jaringan tanpa kabel sepertinya sudah menjadi hal yang umum dewasa ini. Sudah banyak organisasi bahkan mereka yang menggunakan jaringan didalam rumah merasakan keuntungan dari pemanfaatan teknologi ini. Harga dari perangkat tanpa kabel (wireless) itu sendiri, saat ini seperti nya bukan lagi menjadi masalah yang besar.

Melihat kelebihan yang ditawarkan oleh jaringan wireless ini, Penulis mengambil ide dengan menerapkan jaringan Kost-Net, yang banyak diilhami dari Onno W Purbo dan Michael Sunggiardi dengan apa yang mereka sebut sebagai konsep RT-RW Net. Jaringan Kos Net ini nantinya semakin mempunyai nilai lebih saat fungsi Internet terdapat didalamnya. Penulis sangat merasakan kelebihan dari Kos Net ini.

Implementasi jaringan yang diterapkan oleh Penulis adalah benar, dan dapat dibuktikan serta dipertanggung-jawabkan. Implementasi Kos Net yang Penulis gunakan praktis hanya membutuhkan sebuah Akses Point yang berfungsi menghubungkan jaringan yang Penulis miliki (Kos Net) dengan pihak penyelenggara jasa Internet atau yang dikenal dengan ISP (Internet Service Provider). Teknik dan trik pemasangan perangkat radio, banyak Penulis dapat dari Internet, terutama yang diketik oleh Onno W Purbo. Beberapa tulisan Onno Purbo dapat diambil secara gratis antara lain di www.bogor.net/idkf, www.apjii.or.id/onno atau free.vlsm.org.

Akses point yang berguna sebagai penghubung antara client dan pihak ISP, pada umumnya diletakkan diatas rumah. Dengan menggunakan besi agar posisi antenna lebih tinggi dari gedung / bangunan yang ada disekitarnya. Besi yang Penulis gunakan, panjannya tidak lebih dari 3 meter. Karena kebetulan, meskipun jarak LOS (Line Of Sight) antara ISP dengan Kos Penulis, namun tower antenna Omni yang dimiliki oleh ISP masih kelihatan dengan jelas. Pengertian LOS adalah, bahwa antara client dengan pemancar, tidak terdapat halangan apapun. Ini syarat minimal komunikasi secara nirkabel. Namun jika koneksi antar client dengan pemancar mau lebih baik lagi kualitasnya, maka hitung-hitungan semisal Fresnel Zone harus diterapkan. Penulis sudah menerapkan perhitungan freshnel zone ini, dimana antara titik pemancar (ISP) dan client (Kos Net), tidak terdapat halangan di-diameter 2 meter atas dan 2 meter bawah. Signal Quality yang Penulis dapat berada pada kategori Excelent, meskipun sekali-kali signal quality good atau very good didapati Penulis. Pembahasan mengenai freshnel zone ini dapat dilihat di free.vlsm.org/v14/onno/ppt-wlan/ ppt-wireless-links-calc-3-2003.ppt.

Beberapa parameter konfigurasi akses point yang terhubung dengan ISP adalah:
IP : 192.168.0.10 (pada dasar nya, IP pada akses point tidak berpengaruh, karena antara akses point pada pihak ISP, dan wireless client pada Kos Net Penulis, terhubung menggunakan layer 2, yaitu alamat MAC address).
SSID : “dejava”.
Channel : “4”.
Frekuensi : 2.427 Ghz.

Meskipun tanpa menggunakan antenna Penulis mendapatkan kualitas sinyal yang cukup baik, namun Penulis masih merasa perlu untuk menjaga kualitas sinyal tersebut benar-benar baik dengan menambahkan sebuah antenna dengan kategori omni directional. Dari akses point diatas, Penulis menghubungkan kabel UTP pada eth0 gateway / router yang Penulis miliki. Fungsi router ini adalah mentranslasikan IP public menjadi IP lokal. Banyak keuntungan yang didapati dengan penggunaan router, seperti mendistribusikan sebuah IP menjadi beberapa IP, sehingga teman yang berada dilingkungan Penulis dapat juga merasakan penggunaan Internet ini. Fungsi router lainnya adalah membatasi permintaan / request dari client yang berada dibawah Penulis. Sering dijumpai bahwa client sering me-request halaman web yang berbau sex. Fungsi router lainnya adalah memberikan QoS (quality of service) kepada client. Sayang, router yang Penulis miliki tidak bisa diinstall beberapa tools penganalisa jaringan. Penulis juga tidak bisa menginstall tools seperti HTB / CBQ yang cukup ampuh untuk membagi-bagi bandwidth. Hal ini disebabkan karena Penulis menggunakan sebuah router “produk jadi”. Router yang Penulis gunakan adalah router buatan Linksys, anak perusahaan dari Cisco System. Nama router tersebut adalah Linksys WRT54G.

Dari eth0 router, maka didistribusikan menjadi beberapa IP lokal pada eth1 router Linksys tersebut. Distibusi IP lokal tidak hanya dapat digunakan client secara LAN, karena Linksys WRT54G juga mampu bekerja menangani client secara wireless. Dengan demikian, secara transparan Linksys WRT54G router ini memiliki 3 buah LAN Card, karena pada status akses point, dapat dilihat 3 buah MAC address.

Konfigurasi IP yang Penulis gunakan di eth0 router antara lain dapat dilihat sebagai berikut:
IP eth0 router : 172.16.30.4. Subnet 255.255.255.224.
Gateway IP ISP : 172.16.30.30. Subnet 255.255.255.224
DNS IP : 202.149.64.131.

Sedangkan konfigurasi IP pada eth1 (IP yang dijadikan gateway bagi jaringan lokal) adalah sebagai berikut:
IP eth1 router : 192.168.0.1. Subnet 255.255.255.224.
sebanarnya router Linksys yang Penulis gunakan juga dapat dijadikan DHCP server. Namun fasilitas ini Penulis non-aktifkan. Selesai sudah konfigurasi disisi router, sekarang bagaimana agar client dapat melakukan akses internet.

Prinsip dasar agar client juga dapat berbagi jaringan Internet, maka client harus mempunyai koneksi / akses ke router / HUB Penulis. Setelah komputer client terhubung dengan Switch / HUB, maka hal terpenting adalah melakukan konfigurasi IP disisi client itu sendiri. Dari total empat komputer yang terhubung dengan jaringan Penulis, semua komputer minimal mempunyai Sistem Operasi Windows XP Proffesional, meskipun demikian, client yang ada dijaringan Penulis lebih cendrung menggunakan Sistem Operasi berbasis Linux. Kebetulan semua komputer juga diinstall Mandrake Linux 10.1. Beberapa parameter IP yang perlu diisi antara lain:
IP : dimulai dari 192.168.0.2. Subnet 255.255.255.224
IP Gateway : 192.168.0.1.
DNS IP : 202.149.64.131

Konfigurasi diatas wajib diterapkan jika komputer ingin bergabung untuk dapat mengakses Internet. Sekarang bagaimana jika client yang Penulis miliki menggunakan Laptop dan ingin bergabung dengan jaringan secara wireless. Maka dikonfigurasi WLAN client harus mengisi beberapa parameter seperti :
SSID : “linksys”.
Frekuensi : 6.
Fungsi Enkripsi : tidak diaktifkan.
Authentikasi yang digunakan : MAC filtering.

Agar dapat melakukan aktifitas di Internet seperti browsing, ISP memberikan fasilitas IP Proxy yang pada banyak kasus akan mempercepat waktu akses pembukaan halaman web. Alamat IP Proxy server tersebut adalah 202.149.64.132, dengan port 3128 (port yang diterapkan jika menginstall Squid).

Setelah semua konfigurasi selesai dilakukan, maka yang harus dilakukan adalah pengecekan koneksi. Pengecekan koneksi dapat dilakukan dengan mengetikkan perintah “ping” pada Sistem Operasi Windows maupun Linux. Untuk memeriksa koneksi, ada baiknya dilakukan dari “IP yang terdekat” terlebih dahulu. Beberapa hirarki proses penge-ping-an yang biasa dilakukan Penulis.
1.Ping IP masing – masing. Untuk mengetahui IP dikomputer dapat mengetikkan perintah ipconfig -all (Windows) pada command prompt atau ifconfig (Linux) pada konsole.
2.Ping IP 192.168.0.1 (IP gateway).
3.Ping IP 172.16.30.4 (eth0 router).
4.ping 172.16.30.30 (gateway ISP).
5.Ping 202.149.64.131 (DNS ISP).
6.Ping 202.149.64.132 (Proxy Server).
7.Ping www.google.co.id.

Jika semua proses ping tidak menemukan pesan kesalahan, seperti “Destination Host Unreachable”, maka dipastikan client akan dapat melakukan browsing Internet, selama koneksi di ISP tidak sedang down. Tetapi jika pesan kesalahan ditemukan, maka harus diperiksa, dimana pengepingan menemui kesalahan. Setelah berhasil melakukan ping, maka aktifitas browsing dapat dilakukan, seperti memanggil halaman www.google.co.id.

Penulis sangat menganjurkan kepada rekan's sekalian yang berada dilingkungan Penulis agar aktif mengikuti milis (mailing list) seperti di Yahoo atau di Google. Implementasi jaringan yang Penulis gunakan, sebaiknya ditiru oleh rekan mahasiswa yang lain. Praktis perangkat yang dibutuhkan hanya sebuah akses point atau wireless client dengan adapter PCMCIA atau PCI, yang harga nya bervariasi, mulai dari empat ratus ribuan, sampai kisaran jutaan rupiah. Penulis menganggap pembelian WLAN card / akses point adalah sebagai investasi.

Saat ini, yang Penulis alami adalah mendapatkan sangat banyak keuntungan dari jaringan wireless ini. Penulis yang berlangganan dengan salah satu ISP di Jogja, dapat dikategorikan sangat beruntung. Karena hanya dengan bulanan Rp 350,000,- maka Penulis dapat memiliki koneksi Internet 24 jam. Tapi Penulis tidak membayar penuh nominal tersebut, karena masih dibagi dengan empat client yang terhubung dengan jaringan Penulis. Praktis Penulis hanya berbayar tidak lebih dari Rp 80,000,- perbulan. Sekali lagi, semua itu untuk mendapatkan koneksi Internet 24 jam perhari selama sebulan. Pada umumnya, biaya koneksi Internet untuk kategori personal, seperti yang Penulis miliki, sebesar sekitar Rp 700,000,- sebulan. Namun semua itu dapat dipecahkan jika teman sekalian dapat mengkoordinasi sesama teman dikos agar dapat menanggulangi biaya bulanan tersebut.

23 Juni 2005

Antena kaleng Versi pak Noesa

Dari Pak Noesapai...

hidup gue bergantung banget ama internet.
kalo mata gue melek komputer gue mesti hidup dan konek ke internet.
di kantor gue di bangkok ini punya koneksi 145Mbps ke backbone.
jadi bisa dibayangin betapa kencengnya tuh internet.
ada satu sisi buruknya, begitu gue balik ke apartemen berasa lelet banget dialup di tempat sendiri.

gue mau langganan adsl, alas... harus term setahun minimal. sedangkan kerjaan gue butuh pindah2 mulu. gue punya 3 lokasi kantor dan jauh satu sama lain.
biasanya gue pindah apartemen ke deket kantor mana yg gue butuh waktu banyak kerja disitu.

cari punya cari ada satu provider wireless access internet yang punya hotspot di banyak lokasi, salah satu hotspotnya 2 blocks away dari apartemen gue.
tapi masalahnya kalo gue pake "cool laptop" gue sinyalnya kagak sampe kesana.
trus gue browse kesana kemari, dan ketemulah satu antena yang simpel dan murah.

antenna kaleng!!!!!

nyek nyek nyek.. ini antena gak lebih dari guyonan konyol, but the most important thing is... it works.
juga ini gue udah lakuin beberapa lama, tapi baru kali ini gue tulis, kali aja ada yang butuh infonya gue bisa dapet pahala karena bagi2 pengalaman... ;) ting....

ini card ama kabel (pigtail) yang gue punya berikut si "cool laptop" yang setia ikut kemana daku pergi.

ini barang2 yg gue butuhin dan tools yg digunakan.

bikinnya gampang, cari aja kaleng diameter 10cm panjangnya paling nggak 133mm
gue nemu kaleng coklat cocoa van houten yang pas diameternya 10cm.
gue coba habisin tuh coklat yang pada akhirnya nggak sabar dan akhirnya gue buang isinya. hehehehehe.... males lah nambah berat badan gampang, ngurusin yang susah setengah hidup.

gue bikin elemen dari pipa kuningan diameter 4mm, kalo gak punya boleh pake kabel listrik biasa yg agak gede ukuran 2.5 sqmm.
solderin aja ke konektor N bulk type.
panjang elemen dari ujung ke dasar konektor adalah 1/4 lambda yakni 31mm.

trus ni kaleng gue potong panjangnya dari 145mm menjadi 133mm sesuai dengan perhitungan di web ini http://www.saunalahti.fi/elepal/antenna2calc.php.
aslinya panjang kaleng ini 145mm, nyari yang pas 133mm gak ada bok..
so workaround is the best effort.
katanya si website itu kalengnya boleh diameter antara 9-11cm.

jangan lupa ujung yang bekas dipotong diamankan dengan tape isolator atau apa aja. yang penting jangan sampai bikin tangan berdarah2. masa sih demi internet harus sampe berdarah2 kayak perang ngelawan belanda aja.

trus bolongin kaleng dengan jarak 44mm dari dasar kaleng, ingat ya bukan ujung kaleng tapi dasar kaleng.
karena ujung kaleng ama dasar kaleng beda bbrp mm. lihat aja biasanya kaleng dasarnya agak menjorok ke dalam sedikit.

bolongin 4 buah untuk naruh sekrup.
biar gampang, lubang yang pertama jangan bikin gede dulu, bikin asal masuk aja pin N connectornya. setelah itu tempelin konektornya, dengan gitu kita bisa tandain lubang sesuai dengan konektor.

terakhir pasang dari luar N bulk konektor di kaleng yg telah dilubangi tadi.

nah saat2 mendebarkan tiba, ehhh gue point tuh antenna ke arah hospot beberapa blok jauhnya dari jendela gue.
walhasil dapet sinyal yg cukup, padahal sebelumnya wireless lan card gue nggak bisa ngendus tuh signal.

konon antenna ini punya gain antara 9dBi - 11dBi sayangnya gue gak punya instrumen buat ngukur2, lagian udah happy dengan hasil yang ada :D

then life continue as usual....

gue coba pake netstumbler http://www.netstumbler.com/downloads/
ternyata gue bisa ngelihat 7 access point di sekitar apartemen gue.
you know what...? 5 dari 7 AP nggak diprotect apapun jadi bisa konek dengan bebas hahahaha...

kantor gw yg sekarang ada di lantai 18, bisa kelihatan jelas dari jendela apartemen gue. jaraknya kira2 400meter.
sekali gue coba wireless access point gue taruh dekat jendela di kantor, gue pake power output standard 15dBm. antennanya pake buatan trendnet 4dBi indoor omni.
dengan antenna kaleng gue bisa konek dengan sinyal full.
habis itu gue cabut lagi hehehehe...
takut ntar ada yg ngehack ke kantor ntar gue yang disalahin.
padahal sejauh ini yang gue tahu belon ada orang thailand yg jadi hacker seorangpun.
tapi who knows, shit happened.

Saya baru aja tahu tantangan yang saya hadapi akan sangat luar biasa setelah aktif ber-email ria dan ikut dimilis. salah satu email dari orang yang sangat saya hormati, Pak Noesapati memberikan semacam “wejangan” dan gambaran bagaimana beliau saat ini. dari Unix dan Networking (wireless), saat ini beliau sudah berada jauh dari negeri ini, kalau nggak salah beliau di India.

berikut cuplikan Biography beliau yang dikirimkan ke saya di saktilubis@gmail.com:

“saya sempat jadi thailand country manager utk semua outsourcing. kerjaan saya sekarang masih soal selular mulai dari design sampe implementasi untuk CDMA/EVDO/3G tapi ternyata gak bisa jauh2 dari networking & software mungkin udah takdir, gak bisa pisah ama yg namanya unix & internet.”

saya juga mengatakan kepada pak Noesapati, pak Onno mengatakan kepada saya bahwa dalam belajar (belajar nya pak Onno) beliau memegang 3 hal, yaitu dengan mendalami 3 hal, insya Allah kita akan maju. ke-tiga hal tersebut adalah Linux, Networking dan Wireless. kemudian pak Noesapati berujar:

“wak onno dan opa mike bener kuasai networking dan unix (wireless bagian dari networking) sama satu lagi:

tahu gak kelemahan univ2 di indo di dunia IT ? satu hal yg saya lihat paling parah mahasiswa diajarin “C programming” atau “Pascal programming” itu sangat konyol kenapa? karena orang belajar C bukan belajar logika..

dulu saya sempat jg belajar kecil2an di perancis yg diperdalam itu algoritma bukan bagaimana gunakan C atau pascal atau programming language lainnya.

kenapa algoritma? orang kalo logic-nya udah terbina dia nggak akan peduli apakah itu C apakah itu pascal apakah itu v-basic… whatever… tools/compiler itu tinggal masalah syntax sedangkan kekuatan programming ada dalam algoritma-nya.

orang bilang banyak jalan lain ke roma di indonesia dipelajari bagaimana naik perahu ke roma atau bagaimana naik sepeda motor ke roma.

sedangkan di luar negeri diajarin: bagaimana cara yg paling cepat dan selamat menuju ke roma.

itu bedanya…”

saya kembali bertanya, Pak Noesa, saya kuliah nya ambil jurusan Informatika. “kalo kamu belajar bidang IT jangan terpaku ama yg itu namanya operating system atau bahasa pemrograman. bina otak kamu, bina cara berfikir kamu, bina cara kamu mendefinisikan algoritma untuk mendapatkan jalan paling cepat, efektif dan gak banyak menggunakan resource.

sekarang coba cari yg bisa programming… banyak berserakan di muka bumi ini, tapi yg bisa programming dgn proses paling singkat dan efektif… jarang nemu.”

akhir nya, (menurut saya) dengan spechless beliau berujar: “termasuk di india sekarang ini, bikin darah tinggi ngasih tahu scripting unix tapi logikanya muter kesana kemari, padahal katanya org india pinter2 IT.

Akhir saya mengutip:

  1. Belajar jangan terpaku pada software nya, tapi mainkan logika-nya.
  2. Dengan Unix, beliau sudah entah kemana saja. (apa lagi pak Onno) ;-).
  3. Belajar, jangan suka maen GAME !!! (No Offense).